Berita sekilas

Loading...

Wellcome

Wilujeng sumping di jendela STIE Muttaqien Purwakarta, apa adanya tapi gagah

Senin, 16 Juni 2008

PRESTISE BUKAN PRESTASI

Miskin, siapa sih yang mau miskin, tak seorang pun tentunya menghendaki kata tersebut, bersanding dalam kehidupannya. Semua orang berlomba-lomba menghabiskan, menit-menit jam dunia ini, hanya karena takut dikatakan orang miskin. Keringat dan pikiran selalu mengalir di semua dahi kita semua, apa tujuannya? hanya satu, takut diberi Bantuan Langsung Tunai (BLT), namun terbalik logikanya, ketika kita memang sudah dianggap 'kaya' oleh lingkungan kita. Apa yang digembar-gemborkan? "Saya masih tergolong miskin, jangan saya dong, yang dipilih jadi donatur tetap pembangunan mesjid kita ini !!!"
Aneh, manusia ini, padahal awalnya, mereka membanting tulang untuk mencari kata 'kaya' itu, tetapi setelah 'predikat kaya' menempel di bajunya,akhirnya mereka lebih enak dibilang 'miskin'. Karena itu, jangan salah, sebenarnya kehidupan ini benar-benar hanya untuk meluapkan keserakahan predikat saja, buktinya setelah mereka bosan menyandang sebuah predikat yang dikejar-kejarnya, mereka melepas begitu saja. Artinya semua manusia di dunia ini hanya butuh prestise saja, tanpa memiliki prestasi. **rd**Wallahu A'laam Bi Ash-Shawab

MARI BERPIKIR SMART

Indonesia konon katanya, sebuah negeri yang subur makmur loh jinawi, kertaraharja, air mengalir dari hulu sampai muara dengan begitu jernihnya, menghilangkan dahaga tetumbuhan, yang hijau lebat dan berbuah ranum. Karena itu, wajar jika pandangan semua bangsa kepada negeri ini, sangat kaya dengan berbagai hasil buminya.
Selain itu ditambah dengan timbunan tambang emas, timah, nikel, dan energi perut bumi lainnya, yang meluas dari mulai sabang sampai merauke. Membuat semua tuan dan noni eropa tergiur untuk memilikinya. Sampai-sampai mereka rela, beratus-ratus tahun tinggal, di bumi pertiwi ini. Apa alasannya, hanya ingin menikmati dan memiliki semua seisi keindahan dan kekayaan negeri ini.
Ironisnya, semua itu tidak disadari oleh sang pribumi, semua terlena dalam 'keterbelekangan', namun, setidaknya ada beberapa gelintir dari bangsa ini, yang memiliki rasa cinta terhadap negerinya, sampai mereka berani mengorbankan hidup dan kehidupannya, demi nusa dan bangsa. Sepintas mereka seolah datang dari kalangan nasionalis murni, tapi jangan salah, mereka justru berakngkat dari, sebuah gubuk yang reyot, dengan hanya beralaskan tanah serta beratapkan, pelepah kelapa. Tapi semangat mereka berkobar dan berkibar, hanya dengan satu dorongan dari jiwa yang suci, dengan berlandaskan sebuah kitab suci, yaitu "Al-Quranul Karim".
Lagi-lagi, bangsa di negeri ini lupa, dan tak tahu terima kasih, jika kebangkitan negeri ini dibidani oleh sekelompok, laki-laki dengan pakaian putih khasnya, dan selalu tak lepas dari menggenggam butiran tasbih yang mengurai kebawah. Bangsa ini hanya memunculkan, sisi jelek dari kelompok, yang justru ,ilitan dalam memperjuangkan negeri ini. Mereka hanya mempropagandakan, kehidupan kiayi dan santri, dalam sebuah pandangan mata memicing, kekotoran, kejorokan, serta semua penyakit yang bersarang ditubuh mereka, dikarenakan kejorokan tadi.
Kini, hal tersebut terulang kembali, ulama dan sederet aktivis muslim, selalu menjadi 'mainan' mereka, sang kiayai dan para santrinya diploting, supaya menjadi kalangan yang arogansi dan radikal tak mengarah, dengan dibekali sebuah kepalsuan kata 'jihad' yang tak menentu juga alang ujurnya. Sangat ironis, memang bangsa, yang sejak kecil dibesarkan serta dibangkitkan oleh bapak-bapak mereka dari surau, tajug dan majeleis ta'lim, kini mereka menikam para gurunya sendiri.
Karena itu, mari kita berpikir smart, mulailah, menjadi sosok negeri yang tak melihat ke depan selalu, tapi juga tidak lupa menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, tapi bukan berarti menjadi sosok yang hanya merindukan sebuah nostalgia masa lalu yang indah saja. Kini, sebagai bangsa yang telah dibekali semua fasilitas kebebasan dan terlepas dari keterkukngkungan feodalis, imperalis dan kolonialis, sudah selayaknya membangkitkan kembali semangat para kiayai dan santri dahulu, berjuang hanya demi nusa dan bangsa, dengan berlandaskan kepada ajaran yang tak lekang kepanasan, dan tak lapuk pehujanan.
selayaknya pula, bangsa ini bukan terpuruk dari keterpurukan yang membosankan, tetapi mari berpikir jernih dan elegant, tidak kaku oleh seabreg aturan birokrat yang menyesakkan dada, tapi juga tidak seliar banteng hutan, yang membabi buta. **rd_Wallahu A'lam Bi Ash-Shawab**

Senin, 09 Juni 2008

Bodoh untuk yang mau dibodohi

"Orang itu memang bodoh, Pak" ungkapan seorang looser ketika ditanya kenapa mau membodohi orang lain dengan mengabaikan banyak kebaikan, dalam konsep bodoh membodohi, atau bohong membohongi, bual membuali merupakan konsep membingungkan dan bisa menyeret Kita semua bahwa memang "Kita ini Bodoh". seperti ungkapan Allah SWT dalam salah satu ayat al-Quran yang mengejek pembual ketika mereka menyatakan telah membohongi ummat Islam dengan dengan ungkapan "sesungguhnya dia telah membohongi dirinya sendiri"
Harapan akan lahirnya sebuah harapan belum tentu akan sesuai dengan harapan tersebut, semua menjadi bias ketika kita menyadari betapa bodohnya Kita ketika dibodohi oleh orang lain, yang menggap dirinya pintar padahal "bodoh" sedang melekat pada dirinya, paling tidak gambaran luar orang akan menilai itu.
Naif, ya juga. Kebohongan dan kebodohan ini berjalan berurutan atau bahkan bergandengan ketika bohong telah menjadi bagian hidup, untuk apa ?, ya.... ini terjadi karena disekelilingnya masih ada orang bodoh yang rela dibodohi oleh orang bodoh yang tidak sadar bahwa dirinya bodoh.
Lalu untuk apa semua proses, dan kebaikan beruntun selama tahun-ketahun ?, hilang !
Tidak juga, ketika dia telah menyadari betapa kebodohannya, dan kebodohan orang disekitarnya di kali, sehingga dengan konsep matematika jika - x - = + atau bodoh x bodoh = pintar
setiknya pintarlah menyembunyikan kebodohan.

Selasa, 03 Juni 2008

WISUDA BERSAMA

Tanggal 24 Mei 2008 lalu, STIE dan STT Dr. KHEZ. Muttaqien telah menyelenggarakan wisuda bersama 65 orang sarjana, Lulusan STIE Muttaqien yang diwisuda tahun ini berjumlah 34 orang dari dua program studi.
Pada kesempatan tersebut hadir Koordinator Kopertis Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, bapak prof Dr. Rochim Suratman, yang pada kesempatan tersebut membawakan makalah orasi ilmiah Dirjen DIKTI DEPDIKNAS RI Bapak DR. Fasli Jalal yang berhalangan hadir, tema yang diangkat adalah "Sistem pengelolaan Perguruan Tinggi yang Profesional". selain orasi pesan koordinator dalam sambutan pendahuluan dipesankan bahwa PT harus siap menjadi "center of excelent" jika tidak mau ditinggal stakeholdersnya.
Selain koordinator Kopertis wilayah IV hadir juga Bupati Kabupaten Purwakarta Bapak Dedi Mulyadi, SH dalam sambutannya beliau mengharapkan sumbangsih yang lebih besar dari sarjana-sarjana yang dilahirkan oleh STIE dan STT Muttaqien, dan berharap supaya mereka tidak menjadi beban baik bagi institusinya maupun warga masyarakat disekitarnya.
harapan Bupati tersebut dijawab langsung oleh salah seorang wisudawan pada saat memberikan sambutan perpisahan, bahwa "sarjana lulusan STIE dan STT Muttaqien SIAP mengabdi pada masyarakat dan berjanji akan memberikan seluruh kemampuannya untuk membangun bangsa dan negara ini, khususnya Kabupaten Purwakarta.
Wisuda sarjana kali ini merupakan wisuda sarjana angkatan III dari keseluruhan sarjana yang telah dikeluarkan STIE dan STT terdahulu 100% terserap didunia kerja, baik sebagai karyawan swasta, institusi pemerintahan dan membuka usaha sendiri sebagai wirausahawan.
semoga wisudawan kali ini memberikan kontribusi yang sama seperti alumni terdahulu baik bagi keluarganya, daeahnya dan bangsanya; amien.
(created by D2nk)

SEJARAH

Sejarah dan Perkembangan STIE DR. KHEZ. Muttaqien.

Berdirinya STIE DR. KHEZ. Muttaqien berawal dari suatu keinginan untuk membuka program studi Ekonomi Islam (Mu'amalah) sebagai pengembangan dari pada Sekolah Tinggi Agama Islam DR. KHEZ. Muttaqien. Setelah melakukan studi banding (d.h.i. Bapak Drs. Anang Abdul Razak, MPd., Drs. M. Irham Musafir dan H. Muttaqien Kirman, Lc. yang difasilitasi oleh Bapak Drs. H. Suherman Saleh, Ak, MSc.) ke berbagai IAIN yang sudah membuka program studi tersebut, antara lain ke IAIN Walisongo Semarang, dan IAIN Sunan Ampel Surabaya, selanjutnya keinginan untuk membuka program studi Ekonomi Islam (Mu’amalah) tersebut semakin mengkristal.
Setelah keinginan dan ide tersebut disampaikan kepada Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) DR. KHEZ. Muttaqien (d.h.i. Dr. H. Sanusi Uwes, MPd.), serta mendengarkan saran dan masukan dari pengurus Yayasan lainnya dan fasilitator di atas, maka keinginan dan ide tersebut justru ditingkatkan dengan mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) dengan pertimbangan, bahwa mendidik seorang calon sarjana yang mengerti tentang ekonomi namun bergelar S.Ag. (Sarjana Agama) dirasakan serba ‘canggung’ dan apakah tidak sebaiknya mendidik calon Sarjana Ekonomi (SE), namun sangat kental nuansa dan pengertiannya tentang Islam, sekaligus dalam pengamalannya.
Melalui berbagai rapat yang dilakukan secara maraton dan sangat melelahkan, pada tanggal 30 April 2000 dicanangkanlah kebulatan tekad tersebut secara resmi. Akhirnya, ditindaklanjuti dengan mempersiapkan Panitia Tim Pendiri STIE DR. KHEZ. Muttaqien melalui SK YPI DR. KHEZ. Muttaqien tertanggal 1 Mei 2000, seperti di bawah ini :

Koordinator Pendiri : Drs. Anang Abdul Razak, MPd.
Ketua : Drs. Agus Muharam
Wakil Ketua : Drs. M. Irham Musafir
Sekretaris : Usman K, SE
Anggota : Tri Eka Ramadhan, SE
Febri, SE
Erwin Muchtar, SE
Arris Syafa’at, SE
Etna Misora, SE
Lina Indriyani, SE
Pembantu Umum : Didin Syafrudin
Harun Al-Rasyid, S.Ag.

Sejak dibentuknya Panitia Tim Pendiri STIE DR. KHEZ Muttaqien, dimulailah suatu kerja keras, untuk mewujudkan keinginan dan ide tersebut menjadi kenyataan. Dengan mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan pendirian tersebut, mulai dari Proposal Pendirian, Studi Kelayakan, Statuta, sampai kepada Kurikulum dan Sillabus, bahkan rekruitmen dosen-dosen yang siap mewakafkan waktu dan tenaganya untuk mewujudkan keinginan dan ide tersebut.
Sebagaimana hukum seleksi alam, maka di tengah-tengah perjalanan mendirikan STIE DR. KHEZ. Muttaqien, telah terjadi berbagai hambatan dan tantangan, baik dana ataupun sumber daya manusia. Dan pada gilirannya berdampak pada keterlambatan start dalam penerimaan mahasiswa baru, dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya di Purwakarta.